Jantung Sehat, Olahraga Kuat: Perbincangan Ketua SWI/PERKEMI Aceh Tamiang dan Pengamat Olahraga

ACEH TAMIANG — Di tengah kesibukan masyarakat mengejar aktivitas, pekerjaan, dan berbagai tuntutan kehidupan, ada satu hal yang kerap terlupakan: menjaga kesehatan jantung.

Hal tersebut menjadi salah satu pokok perbincangan dalam dialog Ketua SWI (Sekber Wartawan Indonesia) sekaligus Ketua Perkemi (Persaudaraan Shorinji Kempo Indonesia) Aceh Tamiang, Hendriko Lubis, bersama seorang pengamat olahraga, Drs.Irfan Nur. 

Percakapan tersebut tidak sekadar membahas olahraga sebagai aktivitas fisik, tetapi menyentuh persoalan yang jauh lebih mendasar—bagaimana membangun kesadaran masyarakat bahwa jantung yang sehat merupakan modal utama untuk menjalani kehidupan yang produktif.

Menurut Drs. Irfan Nur, olahraga seharusnya tidak hanya dipandang sebagai kegiatan untuk mengejar prestasi. Lebih dari itu, olahraga merupakan bagian penting dari gaya hidup sehat.

“Olahraga bukan hanya tentang menang dan kalah. Yang paling penting adalah bagaimana kita menjaga tubuh tetap sehat, terutama jantung. Karena ketika kesehatan terganggu, banyak hal dalam kehidupan ikut terhenti,” ujarnya.

Perbincangan itu kemudian berkembang pada pentingnya membangun budaya olahraga di tengah masyarakat Aceh Tamiang. Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki, bersepeda, senam, maupun olahraga lainnya dapat menjadi langkah awal untuk menjaga kebugaran apabila dilakukan secara rutin dan sesuai kemampuan.

Hendriko Lubis dalam perbincangan tersebut menilai bahwa kesadaran menjaga kesehatan harus dimulai sejak dini. Masyarakat tidak seharusnya menunggu datangnya penyakit untuk mulai memperhatikan kondisi tubuh.

“Jantung bekerja tanpa pernah meminta kita untuk berhenti. Karena itu, kita juga harus memberikan perhatian kepadanya. Olahraga, pola makan yang baik, istirahat cukup, dan pemeriksaan kesehatan merupakan bagian dari upaya menjaga kualitas hidup,” ungkapnya.

Pesan yang muncul dari perbincangan tersebut terasa sederhana, namun memiliki makna yang dalam: prestasi tidak akan berarti tanpa kesehatan.

Seorang atlet membutuhkan jantung yang kuat untuk mengejar prestasi. Seorang pekerja membutuhkan tubuh yang sehat untuk menjalankan tanggung jawab. Orang tua membutuhkan kesehatan agar tetap dapat mendampingi keluarganya. Bahkan masyarakat secara keseluruhan membutuhkan generasi yang sehat untuk membangun daerah.

Karena itu, olahraga tidak boleh hanya hidup ketika ada pertandingan atau perlombaan. Olahraga harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Irfan Nur  juga menekankan bahwa pembinaan olahraga di daerah sebaiknya berjalan beriringan dengan edukasi kesehatan. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya diarahkan untuk berprestasi, tetapi juga memiliki kesadaran menjaga tubuh sejak usia muda.

Perbincangan tersebut akhirnya bermuara pada satu pesan kuat: jangan menunggu jantung memberi peringatan baru kemudian kita peduli.

Sebab kesehatan sering kali baru terasa begitu mahal ketika telah hilang.

Dari lapangan olahraga hingga kehidupan sehari-hari, menjaga jantung berarti menjaga kesempatan untuk terus berkarya, berkumpul bersama keluarga, mengabdi kepada masyarakat, dan mengejar cita-cita.

Jantung sehat, tubuh kuat, olahraga maju—dan masyarakat pun semakin produktif.

(SIPS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *