ACEH TAMIANG — Di balik hitam-putihnya papan catur, tersimpan sebuah pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar permainan. Keakraban antara Hendriko Lubis, yang dikenal sebagai salah satu calon Ketua KONI Aceh Tamiang sekaligus Ketua SWI Aceh Tamiang, dengan T. Muhammad Tassa, Ketua Percasi Aceh Tamiang, terbangun dalam suasana santai namun penuh makna.
Pertemuan di Warung Pinggir Sungai Lapangan Bawah Kota Kualasimpang, pada Kamis (8/10/2026) tersebut bukan sekadar adu strategi memindahkan bidak. Papan catur justru menjadi ruang untuk membangun komunikasi, mempererat persahabatan, sekaligus bertukar gagasan tentang masa depan olahraga Aceh Tamiang. Di sana, setiap langkah memiliki perhitungan—namun hubungan persaudaraan tidak boleh dikalahkan oleh ambisi.
Hendriko Lubis dan T. Muhammad Tassa menunjukkan bahwa dunia olahraga tidak semestinya hanya berbicara tentang kompetisi dan perebutan posisi. Olahraga juga tentang persatuan, silaturahmi, sportivitas dan bagaimana seluruh elemen dapat duduk bersama membangun prestasi daerah.
Menariknya, permainan catur menjadi simbol tersendiri. Dalam catur, seorang pemain dituntut berpikir beberapa langkah ke depan, membaca situasi, menjaga strategi dan tidak gegabah mengambil keputusan. Filosofi itulah yang seakan menggambarkan bagaimana olahraga Aceh Tamiang membutuhkan kepemimpinan yang mampu melihat jauh ke depan, bukan sekadar mengejar kemenangan sesaat.
Sebagai Ketua Percasi Aceh Tamiang, T. Muhammad Tassa membawa semangat pembinaan olahraga catur. Sementara Hendriko Lubis, yang masuk dalam bursa calon Ketua KONI Aceh Tamiang, terus menyuarakan pentingnya arah baru bagi dunia olahraga, dengan menempatkan atlet, pelatih dan cabang olahraga sebagai bagian utama dari pembangunan prestasi.
“Papan catur mengajarkan kita bahwa setiap langkah harus diperhitungkan. Tetapi dalam olahraga, yang paling penting bukan siapa yang menang atau kalah dalam satu permainan, melainkan bagaimana kita bersama-sama membangun prestasi Aceh Tamiang,” menjadi pesan yang mencerminkan suasana keakraban tersebut.
Pertemuan itu sekaligus menjadi gambaran bahwa persaingan dalam olahraga tidak harus melahirkan permusuhan. Justru dari meja sederhana, dari percakapan santai dan dari sebuah permainan catur, dapat lahir gagasan besar untuk membangun ekosistem olahraga yang lebih sehat, profesional dan berprestasi.
Pada akhirnya, papan catur hanya memiliki 64 kotak, tetapi dari sana bisa lahir pandangan yang jauh lebih luas tentang masa depan olahraga Aceh Tamiang. Sebab dalam membangun prestasi, yang dibutuhkan bukan hanya strategi untuk memenangkan pertandingan, tetapi juga keberanian untuk membangun kebersamaan.
(SIPS)










