Bukan Sekadar Soal Medali, Penggiat Media Sosial Dorong KONI Lebih Dekat dengan Persoalan Olahraga, Kesehatan dan Pemulihan Sosial
ACEH TAMIANG — Banjir kembali menguji ketahanan masyarakat Aceh Tamiang. Di balik genangan, kerusakan dan perjuangan warga menyelamatkan keluarga, terdapat persoalan yang tidak selalu terlihat: bagaimana memulihkan semangat masyarakat setelah bencana, terutama anak-anak yang mengalami ketakutan serta orang tua yang harus kembali membangun kehidupan dari kondisi sulit, hal ini disampaikan di Sebuah Caffe di Karang Baru Aceh Tamiang (22/9/2026).
Pada situasi seperti ini, dinamika bursa Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Aceh Tamiang ikut menjadi sorotan. Penggiat media sosial Edi Aduhai menilai kepemimpinan KONI ke depan seharusnya tidak hanya berbicara mengenai medali, pertandingan dan prestasi, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap kondisi sosial masyarakat.
“Kita jangan hanya berpikir tentang siapa yang menjadi ketua. Kita harus berpikir apa yang bisa dilakukan setelah masyarakat kita mengalami bencana. Anak-anak membutuhkan ruang untuk kembali tersenyum, orang tua membutuhkan semangat untuk bangkit, dan olahraga bisa menjadi salah satu ruang untuk membangun kembali kepercayaan diri masyarakat,” ujar Edi dalam pandangannya.
Menurutnya, munculnya figur dari kalangan jurnalis seperti Hendriko Lubis menarik perhatian karena dunia jurnalistik memiliki kedekatan dengan berbagai persoalan masyarakat. Seorang jurnalis dituntut mendengar suara warga, melihat persoalan dari berbagai sisi dan menyampaikan informasi kepada publik. Pengalaman tersebut, menurut Edi, dapat menjadi modal komunikasi apabila diterjemahkan ke dalam tata kelola olahraga yang terbuka dan program yang nyata.
Nama Hendriko Lubis sendiri telah muncul dalam pemberitaan sebagai salah satu figur yang menyatakan keinginan mengikuti proses pemilihan Ketua KONI Aceh Tamiang. Ia dikenal sebagai Ketua DPD Sekber Wartawan Indonesia (SWI) Aceh Tamiang dan juga Ketua PERKEMI Aceh Tamiang. Sejumlah pemberitaan mengenai bursa tersebut menekankan gagasan pembinaan atlet, penguatan cabang olahraga dan pembangunan sistem olahraga secara berkelanjutan.
Dari Lapangan Banjir ke Lapangan Olahraga
Bagi Edi, persoalan Aceh Tamiang pascabencana tidak berhenti ketika air surut. Pemerintah dan masyarakat masih menghadapi pekerjaan pemulihan. Pemerintah daerah sendiri masih melakukan validasi data korban untuk percepatan pembangunan hunian tetap bagi warga terdampak banjir, sementara masyarakat di sejumlah wilayah juga masih menghadapi ancaman luapan sungai.
Karena itu, ia memandang olahraga dapat menjadi salah satu bagian dari proses pemulihan sosial, terutama bagi generasi muda.
“Anak-anak yang melihat rumahnya terendam, kehilangan barang, bahkan mengalami ketakutan, tidak cukup hanya diberi bantuan material. Mereka juga perlu ruang bermain, berolahraga, berkumpul dan kembali merasakan kehidupan yang normal. Orang tua juga perlu melihat anak-anak mereka kembali ceria. Di situlah olahraga mempunyai nilai sosial, bukan sekadar kompetisi,” katanya.
Pandangan tersebut menempatkan KONI dalam perspektif yang lebih luas. KONI memang memiliki mandat utama dalam pembinaan olahraga prestasi, sehingga persoalan kesehatan dan pemulihan trauma masyarakat bukan semata-mata tanggung jawab organisasi olahraga. Namun, kegiatan olahraga masyarakat, pembinaan usia dini dan aktivitas komunitas dapat menjadi bagian dari ekosistem pemulihan sosial apabila dirancang bersama pihak terkait.
Sorotan terhadap Hendriko juga membawa pertanyaan yang lebih besar: apakah pergantian figur kepemimpinan benar-benar akan diikuti perubahan sistem?
Pertanyaan itu penting karena olahraga Aceh Tamiang tidak hanya membutuhkan sosok yang mampu berbicara di ruang publik. Atlet membutuhkan pembinaan, pelatih membutuhkan dukungan, cabang olahraga membutuhkan kepastian program, dan generasi muda membutuhkan ruang untuk berkembang.
Karena itu, harapan terhadap figur ketua harus dibuktikan melalui program, bukan sekadar popularitas atau dukungan di media sosial. Proses pemilihan Ketua KONI tetap harus berjalan sesuai mekanisme organisasi dan memberikan ruang yang adil bagi seluruh pihak yang berkepentingan.
Di tengah luka pascabencana, publik tentu berharap olahraga tidak kehilangan fungsi sosialnya. Lapangan olahraga bisa menjadi tempat anak-anak kembali bermain. Komunitas olahraga dapat menjadi ruang kebersamaan. Dan pembinaan atlet muda dapat menjadi jalan untuk membangun kembali semangat generasi Aceh Tamiang.
Pada akhirnya, persoalan KONI bukan hanya tentang siapa yang duduk di kursi ketua. Persoalannya adalah apakah kepemimpinan berikutnya mampu menghadirkan sistem pembinaan yang lebih terbuka, program yang berkelanjutan dan olahraga yang semakin dekat dengan masyarakat.
Banjir boleh meninggalkan lumpur, kerusakan dan trauma. Tetapi dari kondisi itu pula muncul kebutuhan untuk bangkit. Bagi penggiat media sosial, momentum bursa Ketua KONI Aceh Tamiang seharusnya menjadi ruang untuk menguji gagasan: apakah olahraga hanya akan mengejar prestasi di podium, atau sekaligus ikut menjadi bagian dari upaya membangun kembali semangat masyarakat—dari anak-anak hingga orang tua.
Dan jawaban atas pertanyaan itu, pada akhirnya, bukan ditentukan oleh kerasnya slogan, melainkan oleh program, tata kelola, keterbukaan dan kerja nyata setelah seseorang memperoleh mandat memimpin, melalui seorang Jurnalis dengan wawasan dan kepimpinan ini dapat dilaksanakan untuk memajukan Aceh Tamiang.
(SIPS)










